Karna aq blom tau gimana cara nulis sinop dan mengedit gambarnya, untuk sementara aQ lagi ngulas isi novel THE TWILIGHT SAGA milik tante stephenie meyer.
Ku rasa smua orang sudah pada tau cerita dari tante meyer ini (mungkin hanya rekapnya doang dan mungkin juga udah pada nonton filmnya). Nah, karna kebetulan aQ punya novelnya jadi boleh dong ku tulis secara lengkap di blog baruku ini..
(sekedar info,
mba anis juga nulis tentang midnight sun milik edward lho?! ^^)
dan bagi yang belum sempat baca ataupun memiliki seri novel twilight, silahkan mampir yah..
(sumpah, seri novelnya kereeeenn abis!).
1. PANDANGAN PERTAMA (part I)
Ibuku mengantar ke bandara, jendela mobil yang kami tumpangi dibiarkan terbuka. Suhu kota pheonix 23`C langit cerah, biru tanpa awan. Aku mengenakan kaos favoritku-tanpa lengan, berenda putih; aku mengenakannya sebagai lambang perpisahan.
Di semenanjung olympic di barat laut washington, sebuah kota kecil bernama forks berdiri di bawah langit yang nyaris slalu tertutup awan. Di kota terpencil ini hujan turun lebih sering di bandingkan tempat lainnya di amerika serikat. Dari kota inilah, dan dari bayangannya yang kelam dan kental, ibuku melarikan diri bersamaku ketika aku baru berusia beberapa bulan. Di kota inilah aku telah di paksa menghabiskan satu bulan setiap musim panas sampai aku berusia empat belas tahun. Ketika itulah aku akhirnya mengambil keputusan tegas, dan sebagai gantinya
selama tiga musim panas terakhir ini, ayahku, charlie, berlibur bersamaku di california selama dua minggu.
Ke kota forks-lah sekarang aku mengasingkan diri, keputusan yang kuambil dengan ketakutan yang amat sangat. Aku benci forks.
Aku mencintai phoenix. Aku mencintai matahahari dan panasnya yang menyengat. Aku mencintai kotanya yang dahsyat dan megah.
"bella", ibuku berkata untuk terakhir kali dari ribuan kali ia mengatakannya-sebelum aku naik pesawat. "kau tidak perlu melakukan ini".
Ibuku mirip aku, kecuali rambut pendek dan garis usia di sekeliling bibir dan matanya. Aku merasa sedikit panik saat menatap mata kekanak-kanakannya yang lebar. Bagaimana aku bisa meninggalkan ibuku yang penuh kasih, labil, dan konyol ini sendirian? Tentu saja sekarang ia bersama Phil, jadi ada yang membayar tagihan-tagihannya, akan ada makanan di kulkas, mobilnya takkan kehabisan bahan bakar, dan ada orang yang bisa ditelponnya bila ia tersesat, tapi tetap saja....
"aku ingin pergi," aku berbohong. Aku tak pernah pandai berbohong, tapi aku telah mengatakan kebohongan ini begitu sering hinga sekarang nyaris terdengar meyakinkan.
"sampaikan salamku buat charlie."
"akan ku sampaikan."
"sampai ketemu lagi," ibuku berkeras."kau bisa pulang kapanpun kau mau-aku akan segera datang begitu kau membutuhkanku."
Tapi di matanya bisa kulihat pengorbanan di balik janji itu.
"jangan khawatirkan aku," pintaku."semua akan baik-baik saja. Aku sayang padamu, mom."
Ibuku memelukku erat-erat beberapa menit, kemudian aku naik ke pesawat, dan ia pun pergi.
Makan waktu 4jam untuk terbang dari phoenix ke seatle, satu jam lagh menumpang pesawat kecil menuju port angeles, lalu satu jam lagi perjalanan darat menuju forks. Perjalanan udara tidak terlalu mengusikku, tapi satu jam dalam mobik bersama charlie-lah yang agak ku khawatirkan.
Secara keseluruhan charlie lumayan baik. Perasaan senangnya sepertinya tulus, ketika untuk pertama kali aku datang dan tinggal bersamanya entah selama berapa lama. Ia sudah mendaftarkan aku ke SMA dan akan membantuku mendapatkan kendaraan pribadi.
Tapi tentu saja saat-saat bersama charlie terasa canggung. Kami sama-sama bukan tipe yang suka bicara, dan aku juga tak tahu harus bilang apa. Aku tahu ia agak bingung karena keputusanku--sebab seperti ibuku, aku juga tidak menyembunyikan ketidak sukaanku pada forks.
Ketika aku mendarat di port angeles, hujan turun. Aku tidak melihatnya sebagai pertanda--hanya sesuatu yang tak terelakkan. Lagi pula aku telah mengucapkan selamat tinggal pada matahari.
Charlie menungguku di mobil patrolinya. Yang inh pun sudah kuduga. Charlie adalah Kepala Polisi Swan bagi orang-orang baik di forks. Tujuan utamaku di balik membeli mobil, meskipuntabunganku kurang, adalah karena aku menolak diantar berkeliling kota dengan mobil yang ada lampu merah-biru di atasnya. Tak ada yang membuat laju mobil berkurang selain polisi.
Charlie memelukku canggung dengan satu lengan ketika aku menuruni pesawat.
"senang bisa bertemu denganmu, bells," katanya, tersenyum ketika spontan menangkap dan menyeimbangkan tubuhku.
"kau tak berubah. Bagaimana Renee?"
"mom baik-baik saja. Aku juga senang ketemu kau, Dad." Aku tidak diizinkan memanggilnya Charlie bila bertemu muka.
Aku hanya membawa beberapa tas. Kebanyakan pakaian Arizona-ku tidak cocok untuk di pakai di Washington. Ibuku dan aku telah mengumpulkan apa saja yang kami miliki untuk melengkapi pakaian musim dinginku, tapi tetap saja kelewat sedikit. Barang bawaanku muat begitu saja di bagasi mobil Dad.
"aku menemukan mobil yang bagus buatmu, benar-benar murah," ujarnya ketija kami sudah berada di mobil.
"mobil jenis apa?" aku curiga dengan caranya mengatakan 'mobil bagus buat-mu", seolah itu tidak sekedar 'mobil bagus'.
"well sebenarnya truk, sebuah Chevy."
"di mana kau mendapatkannya?"
"kau ingat Billy Black di La Push?" La Push adalah reservasi indian kecil di pantai.
"tidak."
"dulu dia sering pergi memancing bersama kita di musim panas," Charlie menambahkan.
Pantas saja aku tidak ingat. aku mahir menyingkirkan hal-hal tidak penting dan menyakitkan dari ingatanku.
"sekarang dia menggunakan kursi roda,"charlie melanjutkan ketika aku diam saja, "jadi dia tak bisa mengemmudi lagi,dan menawarkan truknya padaku dengan harga murah."
"keluaran tahun berapa?" dari perubahan ekspresinya aku tahu ia berharap aku tidak pernah melontarkan pertanyaan ini.
"well, billy sudah merawat mesinnya dengan baik - umurnya baru beberapa tahun kok, sungguh."
Kuharap dad tidak menyepelekankan aku dan berharap aku mempercayai kata-katanya dengan mudah. "kapan dia membelinya?"
"rasanya tahun 1984."
"apa waktu di beli masih baru?"
"well, tidak. kurasa mobil itu keluaran awal 60-an atau setidaknya akhir 50-an," dad mengakui malu-malu.
"ch--dad, aku tidak tahu apa-apa tentang mobil. aku tidak akan bisa memperbaikinya kalau ada yang rusak, dan aku tidak sanggup membayar montir...."
"sungguh, bella, benda itu hebat. model itu tidak ada lagi sekarang."
benda itu, pikirku... sebutan itu bisa di pakai-- paling jelek sebagai nama panggilan.
"seberapa murah yang dad maksud?"bagaimanapun aku tidak bisa berkompromi soal yang satu ini.
"well, sayang, aku sebenarnya sudah membelikannya untukmu. sebagai hadiah selamat datang." charlie melirikku dengan ekspresi penuh harap.
wow. Gratis.
"kau tak perlu melakukannya, dad. aku berencana membeli sendiri mobilku."
"aku tidak keberatan kok. aku ingin kau senang di sini." ia memandang lurus ke jalan saat mengatakannya. charlie merasa tak nyaman mengekspresikan emosinya. aku mewarisi hal itu darinya. jadi aku memandang lurus ke depan ketika menjawab.
"asyik, dad. trims. aku sangat menghargainya." tak perlu ku tambahkan bahwa aku tak mungkin bahagia di forks. dad tak perlu ikut menderita bersamaku. dan aku tak pernah meminta truk gratis--atau mesin.
"well, sama-sama kalau begitu," gumamnya, tersipu oleh ucapan terima kasihku.
BERSAMBUNG KE PART II
*para pembaca, mohon tinggalkan komentarnya yah^^ *